Trust Issue #2: Supportive vs Possessive



Being supportive? WHY NOT?!

Terutama untuk kamu yang masih muda dan disediakan kesempatan untuk mengembangkan diri menjadi seseorang yang lebih maju: Possessive is a big NO NO!

Akan jauh lebih menyenangkan ketika kamu dan dia menjadi orang yang sama-sama menyenangkan. 

Supportive leads to happiness. Kenapa? Karena dengan menjadikan diri kamu seseorang yang suportif terhadap apa yang ingin dia capai, menemani di saat-saat lelah, memberikan semangat untuk bangkit kembali, dan bersedia menjadi partner diskusi adalah kebahagiaan yang tidak dapat dibayar dengan jutaan bunga.

Possessive leads to disappointment. Kenapa? Karena dengan menjadikan diri kamu seseorang yang posesif terhadap apa yang ingin dia lakukan, membatasi ruang geraknya untuk berinteraksi dengan orang lain, memaksanya untuk selalu mendedikasikan diri hanya untuk kamu, dan seolah-olah mengikat kebebasannya adalah kekecewaan yang dia rasakan atas rendahnya kepercayaan kamu terhadap kehadirannya.

Ya, posesif bukan level tertinggi mencintai. Karena kalau memang cinta, akan selalu ada cara untuk saling menghargai.

Share this:

JOIN CONVERSATION

2 Feed Back:

  1. Aku setuju! Tapi yang lebih bahaya adalah Posesif tanpa kesadaran. Itu yang sering bikin ribut, apalagi dalam hal percintaan. eh

    BalasHapus
    Balasan
    1. posesif yang nggak dsadari itu bisa banget kok diubah kalau pasangan bisa saling mengkomunikasikan apa yang dirasakan dengan tepat, jadi lihat dulu kenapa bisa posesif, baru deh coba dijelasin baik-baik :)

      Hapus